Lailatul Qadar memiliki makna teologis yang sangat mendalam. Dalam Surah Al-Qadr ayat 15 dijelaskan bahwa malam tersebut merupakan waktu diturunkannya Al-Quran dan menjadi malam penuh kemuliaan, keberkahan, serta ampunan. Para ulama sepakat bahwa malam ini terjadi pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, meskipun waktu pastinya dirahasiakan sebagai bentuk dorongan agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Ketua Program Studi Ekonomi Syariah (contoh narasumber lembaga), Dr. Ahmad Fauzi, M.E., menyampaikan bahwa Lailatul Qadar bukan hanya tentang kuantitas ibadah, tetapi juga kualitas transformasi diri.
Lailatul Qadar adalah momentum evaluasi spiritual. Ibadah yang dilakukan hendaknya melahirkan perubahan karakter, integritas, dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari, ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai Lailatul Qadar sejalan dengan semangat pembangunan peradaban yang berbasis etika, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.
Beberapa amalan yang dianjurkan pada malam-malam terakhir Ramadan antara lain:
Salat malam (qiyamul lail/tahajud)
Membaca dan mentadabburi Al-Quran
Memperbanyak dzikir dan doa
Itikaf di masjid
Memperbanyak sedekah
Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan dengan meningkatkan ibadah secara signifikan pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa beliau mengencangkan ikat pinggangnya, yang dimaknai sebagai kesungguhan dalam beribadah.
Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, Lailatul Qadar menjadi ruang kontemplasi dan perenungan mendalam. Malam ini mengajarkan pentingnya manajemen waktu, disiplin spiritual, dan konsistensi dalam kebaikan.
Sekretaris Lembaga Dakwah Kampus, Ustadzah Siti Rahmah, S.Ag., menambahkan:
Malam Lailatul Qadar adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Satu malam yang penuh keberkahan dapat mengubah arah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.
Beliau juga mengajak seluruh civitas akademika untuk memanfaatkan momentum Ramadan sebagai sarana memperkuat nilai religiusitas sekaligus meningkatkan kepedulian sosial.
Malam Lailatul Qadar bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan kesempatan spiritual yang memiliki dampak jangka panjang bagi kehidupan pribadi maupun sosial. Dengan meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat komitmen moral, diharapkan setiap individu mampu meraih keberkahan yang dijanjikan serta menjadikannya sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik.
STEMBI Bandung Buka Rekrutmen Dosen Tetap untuk Empat Program StudiBandung – Sekolah Tinggi Ekonomi Manajemen Bisnis Islam (STEMBI) Bandung kembali...
STEMBI Bandung | 26 Februari 2026STEMBI Bandung kembali menyelenggarakan kegiatan akademik berupa Seminar Hasil Penelitian mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah...
Dalam era globalisasi yang ditandai oleh dinamika sosial-ekonomi yang cepat, praktik zakat sebagai instrumen ekonomi Islam menunjukkan tren yang terus...